News  

Makna Hari Kartini Bagi Hj. Isma

Redaksi LFnews

 

KENDARI – Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Sulawesi Tenggara (Sultra) Hj. Isma punya pemahaman tersendiri pada peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April, besok.

banner 728x250

Menurut Isma, Hari Kartini merupakan momen penting bagi perempuan Indonesia, untuk kembali mengingat perjuangan Kartini demi meraih kesetaraan gender dengan kaum pria.

“Selamat Hari Kartini semoga semua diingatkan kembali untuk memperjuangkan persamaan dan bisa memajukan bangsa dan berpartisipasi tanpa lagi persoalan gender dan diskriminasi terhadap wanita,” ujar Isma, saat ditemui di ruang kerjanya di kantor BPKAD Sultra. Selasa (20/04/2021).

Dijelaskan Isma, bahwa Ibu Kartini dikenal karena perjuangannya dalam emansipasi wanita yang berawal dimana surat-surat Ibu Kartini yang dikirimkan ke sahabat-sahabatnya kemudian dikumpul.

“Itulah yang saya contoh dari Ibu Kartini. Saya bekerja tidak harus berada di depan pimpinan saya, saya hanya bekerja dengan penuh tanggung jawab. Nanti ada hasil baru kelihatan atau ketahuan bahwa inilah saya dan inilah hasilnya,” kata Isma.

Baca juga -->  Dukung BNSP Sertifikasi Wartawan, PPWI Buka Posko Pengaduan Korban UKW Dewan Pers

“Dalam menjalankan tugas yang sudah mencapai kurang lebih 10 tahun di BPKAD ini semua tidak terlepas dari bantuan baik secara intern dari BPKAD seperti staf-staf saya yang turut membantu dan secara pemerintah ada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang bekerjasama dengan saya,” sambungnya.

Isma, menyampaikan bahwa apa yang dicapai khusunya dalam pengelolaan keuangan tentunya dengan tata kelola keuangan yang bagus.

“Untuk mencapai tata kelola keuangan yang bagus hingga bisa mendapat Opini tertinggi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selama 7 tahun merupakan awal yang berat untuk memulai, karena total Opini yang didapat itu sebenarnya 10 tahun. Dan 3 tahun sebelumnya saya sudah memindahkan laporan Opini provinsi dari Displaimer atau tidak mendapatkan apa-apa hingga mendapatkan Wajar Dengan Pengecualian (WTP),” bebernya.

Baca juga -->  Kunjungi Buton Pos, LaNyalla Singgung Amandemen ke-5 Konstitusi dan Aspal Buton

Jadi masih Isma, nanti tahun ke 4 baru kita masuk di Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Tentu ini tercapai karena kerjasama kita, baik dilingkungan OPD maupun dilingkungan pemerintah daerah secara keseluruhan,” tandasnya.

Terlepas dari itu semua lanjut Isma, selaku perempuan yang sudah berkeluarga tentu dukungan yang paling utama dari pihak keluarga sangat menentukan.

“Saat bekerja untuk mencapai WTP itu terkadang jam kerja mulai pagi sampai malam, bahkan terkadang kalau di akhir tahun sampai pagi. Jadi dukungan dari keluarga sangat menentukan,” imbuhnya.

“Kartini memang luar biasa, karena perjuangannya sehingga kartini-kartini sekarang bisa bekerja seperti itu. Karena seandainya tidak ada emansipasi wanita, mungkin suami-suami kita tidak akan mendukung kita,” tambahnya.

Untuk itu di hari Kartini ini ia mengucapkan terima kasih buat pejuang wanita kita dalam hal ini ibu R.A Kartini.

Baca juga -->  Webinar Jurnalis Warga Sukses, Ilham Bintang: Pewarta Warga Lebih Tinggi dari Wartawan

Ia juga berharap supaya kartini-kartini yang bekerja sebagai wanita karir tidak melupakan kodratnya sebagai ibu rumah tangga.

“Mudah-mudahan wanita karir tidak melupakan kodratnya sebagai ibu rumah tangga, sebagai istri dan sebagai ibu. Karena bila itu terjadi saya kira Kartini akan sedih,” pungkasnya.

WARTAWAN